Selasa, 15 Oktober 2013

Richard Branson, Pengusaha Memerlukan Ambisi


Richard Branson ambisius, pantang menyerah


Dengan rambut gondrong, ia tampak cuek. Dalam foto-foto, pria yang suka memelihara brewok itu, sering dikerubuti cewek. Richard Branson, pria yang lama melanglang buana di dunia bisnis ini, sekarang sedang fokus kepada proyek ambisiusnya, yakni pariwisata ruang angkasa.

Ia bermitra dengan Scaled Composites dengan membentuk perusahaan transportasi angkasa luar, The Spaceship Company dengan mengembangkan pesawat SpaceShipTwo.

SpaceShipTwo rencananya mulai membawa penumpang ke tepi ruang angkasa suborbital mulai 2014.Sampai saat ini, sudah ada 400 orang yang mendaftar untuk diantarkan melancong ke luar angkasa. Beberapa selebritis dunia pun tertarik, seperti Ashton Kutcher, Angelina Jolie,Justin Bieberdan Katy Perry. Tiketnya US$200 ribu atau sekitar Rp2 miliar lebih.

Dalam wawancara dengan Business Insider di New Yorkakhir pekan lalu, Branson menyatakan suatu saat manusia bisa piknik ke angkasa dengan tiket yang terjangkau. "Kami mempunyai ide yang berbeda. Kami akan umumkan empat bulan sekali, siapa yang bisa terbang ke angkasa dengan murah. Tentu tidak untuk semua orang, tapi sedikit orang yang tidak pernah membayangkan akan pergi ke luar angkasa, " katanya.

Lahir pada tanggal 18 Juli 1950, di Surrey, Inggris, Branson terbilang gagal sekolah dan putus belajar pada usia 16 tahun. Tapi semangat juangnya tetap menyala. Perjalanan hidup mengarahkan dia pada penciptaan Virgin Records. Usahanya di bidang musik terus melebar, hingga akhirnya Branson menjadi miliarder.
Virgin Group, miliknya, terdiri dari 200 perusahaan, termasuk perusahaan Virgin Galactic, yang berbisnis di bidang pariwisata ruang angkasa. Branson memang dikenal dengan gaya petualang, menyeberangi lautan dalam balon udara.

Ayahnya, Edward James Branson adalah seorang pengacara. Ibunya bernama Eve Branson bekerja sebagai pramugari. Sejak kecil, Richard mengidap disleksia, sebuah kelainan yang menyebabkan is suli membaca dan menulis.

Akibat kelainan itu, dia mengalami masalah saat sekolah khusus laki-laki Scaitcliffe hingga umur 13 tahun. Dia kemudian pindah ke Stowe School, sebuah sekolah asrama di Stowe , Buckinghamshire, Inggris.
Branson pada akhirnya keluar sekolah pada usia 16 tahun akibat kesulitan belajar. Tapi ia kemudian justru membuat majalah untuk siswa dan ditulis oleh siswa juga. Majalah duluncurkan tahun 1966 dan disebarkan secara gratis. Biayanya ditutup dengan iklan.

Pada 1969, ia memiliki ide mendirikan rusahaan rekaman Virgin untuk membantu mendanai majalahnya. Perusahaan berjalan perlahan, tapi Branson dengan semangat tinggi bisa memperluas bisnis.
Branson kemudian mendirikan toko kaset di Oxford Street, London. Kali ini toko laris manis. Dari sinilah ia membangun studio rekaman pada 1972 di Oxfordshire, Inggris.

Artis Mike Oldfield merekam single "Tubular Bells " pada 1973 dengan bantuan tim Branson. Lagu ini meroket, duduk di tangga lagu Inggris selama 247 minggu. Menggunakan momentum keberhasilan Oldfield, Branson kemudian merekam pemusik lain seperti Sex Pistols, Club Culture, Rolling Stones, dan seterusnya. Kesuksesan ini mengangkat Virgin Music masuk ke dalam daftar enam studio rekaman terhebat di dunia.
Branson memperluas usahanya lagi. Kali ini ia mendirikan bisnis di luar musik, yakni perusahaan transportasi dan supermarket. Ia mendirikan Grup Voyager pada 1980, maskapai penerbangan Virgin Atlantic pada 1984, dan serangkaian Virgin Megastore.

Tetapi nasib baik tidak selalu datang. Pada 1992 , ia harus menjual Virgin Music kepada THORN EMI sebesar US$1 miliar atau Rp10 triliun dengan nilai tukar sekarang.

Sebagai pengusaha, Branson tidak putus asa. Ia tetap ingin berkiprah di bisnis musik. Pada 1993, ia mendirikan stasiun Virgin Radio, dan tahun 1996, ia mengelola perusahaan rekaman kedua, V2 yang menangani artis seperti Powder Finger dan Tom Jones.

Branson sekarang memiliki perusahaan di lebih dari 30 negara, termasuk Inggris, Amerika Serikat, Australia, Kanada, Asia, Eropa dan Afrika Selatan. Dia telah memperluas bisnis dibawah Virgin Group itu ke berbagai bidang seperti kereta api, ponsel, dan pariwisata luar angkasa melalui Virgin Galactic.

Sebagai petualang, ia telah menyeberangi samudera Atlantik dengan Virgin Atlantic Challenger II pada 1986. Ia pun menjadi manusia pertama dengan balon udara panas melintasi Atlantik (1987) dan Pasifik (1991).

Ia pun meraih gelar kebangsawanan pada 1999 atas kontribusinya di bidang kewirausahaan. Pada 2009, ia duduk di no 261 daftar Forbes sebagai manusia terkaya dengan US$2,5 miliar, bahkan dia memiliki dua pulau pribadi. R.Wiranto/berbagai sumber (dimuat di Jurnal Nasional 2 Oktober 2013).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar