Kamis, 10 Oktober 2013

(Motivasi) Lee Shau Kee: Kaya, Ceria, Suka Berbagi Tips

Orang kaya momong cucu




Lee Shau Kee sangat populer di Hong Kong karena sering berbagi tips soal bisnis. Pria yang sudah berusia 85 tahun ini selalu terlihat ceria dan gesit. Tips yang diberikan seringkali bersifat promosi.  Kiat bisnisnya terlselip promosi sendiri;  belilah saham di pengembang properti  Henderson Land. Perusahaan itu tak lain milik dia sendiri.

Ketika berbicara dengan para audien, Lee pernah memberi tips bisnis yang serius. “Gunakan uang untuk menambah kekayaan. Jangan hanya disimpan di bank,” katanya. Nasehat lainnya diperuntukan bagi pria. “Carilah pekerjaan yang membahagiakan dan bekerja keraslah. “ Sedangkan nasehat untuk wanita adalah carilah pria yang tepat.

Nasehat untuk pemuda; “jangan kawin terlalu cepat. Lebih baik bekerja keras saat muda dan kejar karier.”   Bagi yang sudah sukses, seringkali  orang akan menjadi budak uang.  Ada caranya agar bisa terhindar dari perbudakan uang. Yakni,  berilah uang kepada orang lain dengan tujuan bermanfaat. Terlibatlah secara langsung saat memberi. “Ini akan membuka pikiran Anda.”

Lee juga menawarkan usul lainnya agar seseorang bisa sukses: “maksimalkan orang-orang di sekitar Anda agar memberi kontribusi lebih banyak, “ katanya. Itulah sebabnya, Lee merancang program pelatihan bagi satu juta petani di pedesaan dan membantunya mendapatkan kerja. Karena satu keluarga tiga orang, maka manfaatnya bisa dirasakan tiga juta orang.

Pada koran South China Morning Post terbitan 10 Augustus 2013, Lee Shau-kee sedang berjuang untuk mendapatkan tanah untuk membangun perumahan. Lee manyatakan tanah yang diincarnya di Yuen Long akan dipakai untuk membangun rumah murah. Rupanya tidak mudah, karena petani yang sudah ada di sana hingga 20 tahun ada yang menolak pindah. “Itu masalah kecil, “ kata Lee. Dia siap merelokasi petani ke tempat lain.

Seperti ditulis Forbes awal tahun ini, Lee menjadi pengusaha terkaya nomor dua di Hong Kong.  Kenaikan aset terutama disebabkan akibat kenaikan saham properti hingga 38 persen tahun 2012, Lee menjadi semakin tajir. Orang terkaya di Hong Kong tetap diduduki  Li Ka-shing  yang juga bermain di properti. Di rangking Forbes tahun ini yang diterbitakan Maret lalu, Lee berada di nomor 24 terkaya dunia dengan kekayaan US$20,3 miliar dolar atau Rp200 triliun lebih.

Seperti diceritakan di www.hld.com,   Lee tumbuh di provinsi Guangdong, China Selatan. Ia lahir di sana 29 Januari 1928. Dia pindah ke Hong Kong 1948 dan langsung menjadi pionir bisnis real estate. Seperti ditulis China.org.cn, ayah Lee berdagang emas dan perak dengan mendirikan toko di Guangzhou.  Lee pergi ke Hong Kong sebagai pengungsi dengan uang 1.000 yuan.

Kemampuan  ayah sebagai pedagang emas, menurun ke Lee yang kemudian berbisnis tukar menukar mata uang. Ia mendapatkan banyak uang dari bisnis ini. Banyak warga kaya yang datang ke Hong Kong dan menyebabkan harga emas terus meningkat. Pada tahun 1950, ia mendirikan bisnis perdagangan ekspor impor yang berjalan perlahan.  Sejak 1958, Lee membeli saham Yong Ye Group, perusahaan properti  segera setelah itu dia terjun ke bisnia real estate. Melalui bisnis propertinya, Henderson, Lee tidak bermain di kelas atas. Dia justru sejak lama fokus ke bisnis rumah kecil dan murah, seperti flat untuk para keluarga muda kelas menangah.

Bisnisnya terus bekembang. Bahkan saat jayanya, 1996, ia sempat menjadi nomor empat terkaya di dunia versi Forbes. Sebagai orang yang banyak uang, dia mulai  memikirkan wadah untuk berbagai rezeki.

Melalui Yayasan Lee Shau Kee, Lee menyediakan beas siswa, bantuan rehabilitasi sekolah dan donasi kepada universitas di seluruh dunia.  Pada 1982, Lee mendirikan  Yayasan Pendidikan Pei Hua dengan tujuan meningkatkan mutu tenaga kerja di China.
Dengan bantuan pemerintah pusat China, ia memberi training ketrampilan kepada satu juta petani dan 10 ribu dokter pedesaan di China.
  
Seperti ditulis Far Eastern Economic Review,  grup binis Henderson, sangat berorieantasi ke keluarga. Lee melibatkan tidak kurang  10  familinya dalam mengurus perusahaan. Sahamnya juga mayoritas dikuasai keluarga sehingga sulit diambil alih pihak lain.

Tapi perhatiannya yang sangat besar terhadap keluarga agaknya bertentangan dengan kenyataan bahwa Lee bercerai dengan istrinya, Lau Wai-kuen, setelah mengarungi keluarga selama 15 tahun. Apapun yang terjadi, setelah cerai 1981, Lee tetap sukses mengembangkan bisnis


Dalam sebuah biografi yang ditulis Leung Fung-yee, Lee menyatakan tidak mau menikah lagi.”Saya tidak mau menikah, karena takut wanita hanya melihat uang saya, “ katanya. Salah satu anak Lee, Margaret menyatakan: “Kami tidak melarang Ayah memiliki kehidupan sosial, tapi beliau memang lebih suka dengan keluarga, makan malam bersama dan bermain dengan cucu.”  Rihad Wiranto (pernah dimuat di Jurnal Nasional edisi Oktober 2013)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar