![]() |
| Orang kaya momong cucu |
Lee Shau Kee sangat populer di Hong
Kong karena sering berbagi tips soal bisnis. Pria yang sudah
berusia 85 tahun ini selalu terlihat ceria dan gesit. Tips yang diberikan
seringkali bersifat promosi. Kiat
bisnisnya terlselip promosi sendiri;
belilah saham di pengembang properti Henderson
Land . Perusahaan itu tak
lain milik dia sendiri.
Ketika berbicara dengan para audien, Lee pernah memberi tips
bisnis yang serius. “Gunakan uang untuk menambah kekayaan. Jangan hanya disimpan
di bank,” katanya. Nasehat lainnya diperuntukan bagi pria. “Carilah pekerjaan
yang membahagiakan dan bekerja keraslah. “ Sedangkan nasehat untuk wanita
adalah carilah pria yang tepat.
Nasehat untuk pemuda; “jangan kawin terlalu cepat. Lebih
baik bekerja keras saat muda dan kejar karier.” Bagi yang sudah sukses, seringkali orang akan menjadi budak uang. Ada
caranya agar bisa terhindar dari perbudakan uang. Yakni, berilah uang kepada orang lain dengan tujuan
bermanfaat. Terlibatlah secara langsung saat memberi. “Ini akan membuka pikiran
Anda.”
Lee juga menawarkan usul lainnya agar seseorang bisa sukses:
“maksimalkan orang-orang di sekitar Anda agar memberi kontribusi lebih banyak,
“ katanya. Itulah sebabnya, Lee merancang program pelatihan bagi satu juta
petani di pedesaan dan membantunya mendapatkan kerja. Karena satu keluarga tiga
orang, maka manfaatnya bisa dirasakan tiga juta orang.
Pada koran South China Morning Post terbitan 10
Augustus 2013, Lee Shau-kee sedang berjuang untuk mendapatkan tanah untuk
membangun perumahan. Lee manyatakan tanah yang diincarnya di Yuen Long akan
dipakai untuk membangun rumah murah. Rupanya tidak mudah, karena petani yang
sudah ada di sana
hingga 20 tahun ada yang menolak pindah. “Itu masalah kecil, “ kata Lee. Dia
siap merelokasi petani ke tempat lain.
Seperti ditulis Forbes awal tahun ini, Lee menjadi pengusaha
terkaya nomor dua di Hong Kong . Kenaikan aset terutama disebabkan akibat
kenaikan saham properti hingga 38 persen tahun 2012, Lee menjadi semakin tajir.
Orang terkaya di Hong Kong tetap diduduki
Li Ka-shing yang juga bermain di
properti. Di rangking Forbes tahun ini yang diterbitakan Maret lalu, Lee berada
di nomor 24 terkaya dunia dengan kekayaan US$20,3 miliar dolar atau Rp200
triliun lebih.
Seperti diceritakan di www.hld.com, Lee tumbuh
di provinsi Guangdong ,
China Selatan. Ia lahir di sana
29 Januari 1928. Dia pindah ke Hong Kong 1948
dan langsung menjadi pionir bisnis real estate. Seperti ditulis China.org.cn,
ayah Lee berdagang emas dan perak dengan mendirikan toko di Guangzhou. Lee pergi ke Hong Kong
sebagai pengungsi dengan uang 1.000 yuan.
Kemampuan ayah
sebagai pedagang emas, menurun ke Lee yang kemudian berbisnis tukar menukar
mata uang. Ia mendapatkan banyak uang dari bisnis ini. Banyak warga kaya yang
datang ke Hong Kong dan menyebabkan harga emas
terus meningkat. Pada tahun 1950, ia mendirikan bisnis perdagangan ekspor impor
yang berjalan perlahan. Sejak 1958, Lee
membeli saham Yong Ye Group, perusahaan properti segera setelah itu dia terjun ke bisnia real
estate. Melalui bisnis propertinya, Henderson ,
Lee tidak bermain di kelas atas. Dia justru sejak lama fokus ke bisnis rumah
kecil dan murah, seperti flat untuk para keluarga muda kelas menangah.
Bisnisnya terus bekembang. Bahkan saat jayanya, 1996, ia
sempat menjadi nomor empat terkaya di dunia versi Forbes. Sebagai orang yang
banyak uang, dia mulai memikirkan wadah
untuk berbagai rezeki.
Melalui Yayasan Lee Shau Kee, Lee menyediakan beas siswa,
bantuan rehabilitasi sekolah dan donasi kepada universitas di seluruh
dunia. Pada 1982, Lee mendirikan Yayasan Pendidikan Pei Hua dengan tujuan
meningkatkan mutu tenaga kerja di China .
Dengan bantuan pemerintah pusat China ,
ia memberi training ketrampilan kepada satu juta petani dan 10 ribu dokter
pedesaan di China .
Seperti ditulis Far Eastern Economic Review, grup binis Henderson , sangat berorieantasi ke keluarga.
Lee melibatkan tidak kurang 10 familinya dalam mengurus perusahaan. Sahamnya
juga mayoritas dikuasai keluarga sehingga sulit diambil alih pihak lain.
Tapi perhatiannya yang sangat besar terhadap keluarga
agaknya bertentangan dengan kenyataan bahwa Lee bercerai dengan istrinya, Lau
Wai-kuen, setelah mengarungi keluarga selama 15 tahun. Apapun yang terjadi,
setelah cerai 1981, Lee tetap sukses mengembangkan bisnis
Dalam sebuah biografi yang ditulis Leung Fung-yee, Lee
menyatakan tidak mau menikah lagi.”Saya tidak mau menikah, karena takut wanita
hanya melihat uang saya, “ katanya. Salah satu anak Lee, Margaret menyatakan:
“Kami tidak melarang Ayah memiliki kehidupan sosial, tapi beliau memang lebih
suka dengan keluarga, makan malam bersama dan bermain dengan cucu.” Rihad Wiranto (pernah dimuat di Jurnal Nasional edisi Oktober 2013)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar